Kali ini kita akan sedikit cerita tentang perjalanan perform 2 hari di 2 kota bersama salah satu nasyid acapella dari Jogjakarta, Fatih Acapella.

Pada hari jum’at (6 Februari 2015) pukul 20.00, beberapa personil Fatih sudah berkumpul di stasiun Tugu Yogyakarta. Kali ini jadwal pertama perform mereka adalah di Jakarta pada hari Sabtu di acara walimatul ursy di daerah Bagusan, Jakarta Timur.

Kali ini yang berangkat dari Jogja adalah Mas Cahyo sebagai manager, mas Chanif, Diky, Martha dan Muchlis. Perjalanan ke Jakarta ditempuh menggunakan kereta Argo Dwipangga dan sampai di Jakarta dini hari pukul 04.00 WIB.

Akhirnya pada hari yang sama, Fatih sukses mengiringi jalannya prosesi pernikahan dari acara akad nikah pasangan Raymond dan Reni, hingga acara resepsi dari pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Dan salah satu pimpinan WO yang juga salah satu personil Fatih pun, ikut menyumbangkan beberapa lagu membersamai Fatih.

image

Setelah perform di acara walimahan pada siang hari, temen-temen Fatih langsung menuju stasiun Gambir, dan sekalian berkunjung ke area Monas.

image

Setelah itu, perjalanan dari Jakarta dilanjutkan menuju Solo untuk perform pada ahad pagi di Ngawi. Acara seminar nasional tahunan yang digelar oleh Tama Smada (SMAN 2 Ngawi) kali ini mengambil tema “Menjadi Pemenang Kehidupan”. Dan Fatih sudah hampir 5 kali mengisi acara seminar nasional tahunan tersebut.

Seperti dikutip di www.kampoengngawi.com, seakan menjadi sebuah kesuksesan yang luar biasa bagi Tama Smada (Takmir Mushola Ash Solihin SMA Negeri 2 Ngawi) yang pagi hingga siang kemarin menjadi penyelenggara sebuah seminar umum yang diberi tajuk “Menjadi Pemenang Kehidupan”

Sepertinya memang animo masyarakat ngawi, terlebih pelajar saat ini sangat kuat dan bagus sekali mengikuti seminar – seminar yang bertemakan kesuksesan dan masa depan. Seminar yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidkan Kabupaten Ngawi , Abimanyu,sejak jam 8 pagi di Gedung Eka Kapti Ngawi ini pesertanya mencapai 1000 lebih.

Abimanyu menyampaikan dalam sambutannya sebagai pembuka seminar dan memberikan kutipan, “Proses Pembangunan Karakter tidak akan pernah berhenti.” Dengan berakhirnya sambutan dari Kepala Dindik tersebut, seminar resmi dibuka. Terhitung dari panitia yang menargetkan peserta seminar 1100 dari tiket yang dicetak, namun sepertinya hari ini lebih dari 1100 manusia yang memadati gedung di sebelah timur Alun – alun Ngawi ini.

Diisi oleh dua ustadz muda dari Malang dan Surabaya yang diselingi dengan penampilan nasyid. Selain Fatih, ada Oman Voice dan Sana Voice yang mengisi acara di sela – sela pembicara memberikan suguhan yang atraktif dan interaktif. Seperti halnya Ustadz Yosi Al Muzani yang menyampaikan bahwa Muda Itu Modal Kemenangan – Menjadi Pemenang Kehidupan, memberikan energi positif bagi para peserta yang dengan antusias mengikuti seminar. Pembicara kedua adalah Ustadz Adri Suyanto.

Fikri Ilham, yang tercatat masih kelas 2 SMA ini mampu mengkolaborasi dan mengkoordinasi tim nya untuk menyuguhkan sebuah seminar yang sukses, hebat, dan berbobot.

Sedikit mengutip dari komentar grup Fatih, menyampaikan bahwa ” Ngangeni Tenan Smada Kie…” (Smada memang membuat kita rindu). Sementara itu Ervina, salah satu panitia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan seminar ini dengan lancar. “Alhamdulillah lancar acara seminar hari ini, rasa lelah tlah berbagi dengan rasa puas #MenangiHidupmu” , celetuk di akun twitternya.

Dan seperti tahun- tahun sebelumnya, audience nya pun luar biasa..

image

image

image

Setelah perform yang luar biasa di Ngawi, Fatih melanjutkan perjalanan ke Jogja. Nah, pada saat mengantar mas Rudin kembali ke Jakarta via Stasiun Balapan Solo, Fatih ditemani mas Indrawan Yepe ke Jogja. Beliau adalah salah satu seniman senior di kota Solo. Beliau juga seorang manager nasyid Zukhruf dari Solo.

Mas Indrawan, begitu Fatih menyapanya, banyak mengingatkan kami untuk membuat karya-karya yang muncul dari ketulusan hati. “Sebuah karya masterpiece tidak mungkin dilahirkan dengan cara yang biasa, tapi keterlibatan hati dan jiwa sudah pasti ada” begitu kira-kira pesan beliau ke Fatih.

Beliau juga menuturkan, jika sebuah karya dibuat dengan melibatkan hati, sebagai seorang pendengar pasti dapat merasakan resonansinya. Oleh karena itu kenapa kadang air mata kita tiba-tiba menetes saat kita tidak sengaja mendengarkan salah satu lagu yang cukup menyentuh. Beliau memberi contoh salah satu lagu yang membuatnya tergetar adalah Ketika Tangan dan Kaki Berbicara yang disenandungkan oleh almarhum Chrisye. Begitu luar biasa lagu itu, karena saat Taufik Ismail memberikan lirik kepada Chrisye untuk dinyanyikan, Chrisye berkali-kali menangis. Sehingga harus berkali-kali mengulang take vocal. Akhirnya dengan penuh kesungguhan, Chrisye mencoba untuk lebih konsentrasi menyanyikan lagu itu. Dan akhirnya satu kali take dan jadi. Soalnya kalau dilanjutkan, Chrisye tak kuasa membendung air matanya karena begitu dahsyatnya lirik tentang sebuah pertanggung jawaban di hari akhir kelak.

Begitu luar biasa bisa menimba ilmu dari beliau. Dan menjadi penutup serangkaian cerita perjalanan Fatih antara Jakarta, Ngawi, Solo dan Jogja.

image

Redaksi : admin


2 Comments

keren bangetttttttt · 11 February 2015 at 16:54

bacanya hampir nangis saking gembira mungkin hahaha, makasih adik2 kerja keras kalian akan berguna dimasa depan -menjadipemenangkehidupan….

angki · 12 February 2015 at 15:54

Gak sabar liat perform fatih di surga” semoga tak ada stena yg menyesatkan kebaikan terus berjuang go fatih go….

Komentar Anda