Jogja Nasheed Camp atau JNC 2015 telah berlangsung dengan sukses pada hari Sabtu – Minggu, 14 -15 Februari 2015 di Pondok Pemuda Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, D.I. Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan UNASCO (UIN Nasyid Community) dan ANN Jogja tersebut berhasil mendatangkan peserta sekitar 50-an orang. Peserta yang hadirpun cukup variatif. Certatat, dek Rani sebagai peserta paling muda yakni kelas 5 SD dan ada yang 4 orang pelajar kelas 1 yang datang jauh-jauh datang dari Semarang dengan menamakan grup nasyid Ash-hab.

Peserta JNC 2015 Berikrar dipandu Oleh Teh Kendy Tiara

Peserta JNC 2015 Berikrar dipandu Oleh Teh Kendy Tiara

Acara di hari Sabtu pagi berjalan dengan seru dan agak sedikit berat. Dengan dipandu oleh teh Kendy Tiara, materi pertama yang disampaikan adalah “Sejarah, Pengertian dan Managerial Nasyid” yang berturut-turut disampaikan oleh Ibu Dr. Kun Astuti sebagai dosen musik di UNY dan Mas Aga Sekamdo, MM sebagai pangamat nasyid dan manager dari Nasyid Justice Voice. Ibu Kun yang mengambil disertasi S3-nya tentang nasyid ini banyak menyampaikan sejarah bagaimana nasyid mulai ada. Dikatakan bahwa pertama kali nasyid sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Nasyid yang pertama kali adalah “Thola’al badru”. Saat itu nasyid sholawat “thola’al badru” dinyanyikan bersama-sama oleh kaum anshor saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW saat hijrah dari Mekah ke Madinah. Dan sampai saat ini  nasyid sholawatan tersebut hingga sampai saat ini kita masih sering mendengarnya.

Di Indonesia, nasyid mulai dikenalkan seiring dengan penyebaran Islam di tanah nusantara oleh para wali. Senandung atau nasyid yang syarat muatan dakwah disampaikan oleh para wali dengan menyesuaikan obyek dakwahnya di tanah jawa. Sebutlah lagu “lir-ilir” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Tembang ini diawali dengan Lir ilir yang artinya bangunlah, bangunlah atau bisa diartikan sebagai sadarlah. Kita diminta bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh ALLAH SWT dalam diri kita, karena itu digambarkan dengan Tandure wus sumilir atau tanaman yang mulai bersemi dan pohon-pohon yang mulai menghijau bagaikan Tak ijo royo-royo. Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing, apakah mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan terus berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagian seperti bahagianya pengantin baru atau Tak sengguh temanten anyar.

Kita juga mengenal bermacam-macam lagu-lagu sholawat yang sampai saat ini juga masih sering kita dengar. Di tahun 80-an, lagu-lagu nasyid mulai populer. Dibawakan oleh grup Bimbo, beberapa lagu pop religius yang itu juga termasuk dari nasyid, seakan booming di masyarakat Indonesia. Sebut saja lagu Tuhan, Sajadah Panjang, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, dll. Kemudian muncul Kyai Kanjeng yang digawangi oleh Emha Ainun Najib yang membawakan lagu-lagu Islami tapi dibawakan dengan aransemen etnik dan modern sehingga mudah dicerna oleh masyarakat.

Pada tahun 90-an, nasyid-nasyid dari Timur Tengah dibawa ke tanah oleh aktivis dakwah mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sana. Nasyid-nasyid tersebut muncul untuk seruan jihad terhadap penindasan umat Islam di Palestina. Di negri jiran Malaysia juga mulai bermunculan grup-grup nasyid yang lagu-lagu mereka ber-ekspansi ke Indonesia, sebut saja grup Nada Murni Al-Arqam, Hijaz, Raihan, dll. Sehingga tahun-tahun tersebut mulai bermunculan nasyid-nasyid di Indonesia. Grup nasyid yang populer dari Indonesia pertama kali adalah Snada. Kemudian disusul oleh nasyid-nasyid yang lain seperti Suara Persaudaraan, Justice Voice, Gradasi, Izzatul Islam, dll. Tahun 2004 adalah puncak jaya-jayanya nasyid di Indonesia. Terbukti di tahun tersebut, penggerak-penggerak nasyid dapat menembus TV Nasional Indosiar dengan acara Fesival Nasyid Indonesia. Yang berhasil menyeleksi 10 tim-tim nasyid terbaik di Indonesia untuk maju di babak final dan muncul di layar kaca nasional. Saat itu yang maju ke babak final mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah grup nasyid Fatih, dan dimenangkan oleh tim nasyid Al-Veoli dari Bandung. Sejak saat itu mulai banyak grup-grup nasyid, yang biasanya adalah grup acapella, mulai bertebaran di Indonesia. Mulai dari pelajar SMA hingga aktivis mahasiswa.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan nasyid mulai pasang surut. Dominasi personil nasyid yang biasanya adalah mahasiswa, akhirnya mengikuti pola mereka. Saat masih mahasiswa mereka adalah personil nasyid, setelah lulus biasanya mulai mencari pekerjaan, dan grup nasyidnya terpaksa harus bubar. Nasyid masih belum bisa menjadi mata pencaharian pokok untuk menghidupi keseharian mereka. Minimnya kaderisasi nasyid juga berperan dalam ikut merosotnya perkembangan nasyid itu sendiri. Belum lagi, munculnya grup band Gigi yang berinovasi membawakan lagu religi dengan gaya rock membuat sebuah terobosan tersendiri bagi perkembangan nasyid. Muncul lagi grup band Ungu yang cukup populer membawakan lagu-lagu religi seperti Surga-Mu, Andai Ku Tahu, Para Pencari-Mu, dll. Sehingga makin tenggelamlah grup-grup nasyid yang baru seumuran jagung di blantika musik Indonesia.

Bu Kun memiliki pengalaman tersendiri saat berkecimpung dengan teman-teman nasyid. Sebagai seorang dosen musik, bu Kun memiliki kesan tersendiri dengan nasyid. “Saat bertemu dengan mahasiswa saya yang memiliki nasyid, mereka memberi kesan yang damai dan santun. Sehingga saya nyaman dengan mereka. Berbeda dengan mahasiswa musik saya yang tidak tergabung dengan nasyid, gaya-nya ya seperti mahasiswa pada umumnya. Tapi personil nasyid cukup berbeda” tuturnya. Itulah yang membedakan nasyid dengan lagu-lagu umum. Dari sisi personilnya sudah memberikan contoh dan teladan dalam menyampikan syi’ar Islam.

Senada dengan Bu Kun, mas Aga juga lebih menekankan pada sisi managerial. Mas Aga yang mengambil thesisnya juga mengenai nasyid itu, banyak memberikan tantangan bahwa mengurus nasyid harus fokus. Sebagain kita menganggap nasyid masih sekedar hobi saja, pada nasyid adalah sebuah perjuangan peradaban. Sehingga seorang penasyid adalah seorang pejuang yang berjuang untuk merubah peradaban lebih baik lagi. Kita dimudahkan bahwa nasyid memili genre yang luas. Nasyid bisa dalam bentuk acapella, pop, dangdut, rock, dll. Genre tersebut tidak ada batasannya, karena toh tidak ada hukum yang melarang atau mewajibkan pada genre tertentu. Tapi, yang perlu diingat harus tidak melanggar batasan syar’i.

Nasyid sangat berbeda dengan lagu-lagu umum yang lain. Dalam membuat lirik nasyid, kita tidak boleh sembarangan. Misal nasyid tentang ke-Tuhanan, kita tidak bisa sembarangan membuat lirik berdasarkan karangan kita sendiri. Namun kita harus belajar dan tahu apa saja sifat-sifat Allah SWT, kebesaran Allah SWT, dll. Sehingga nasyid memiliki muatan ilmu dan sarat makna bagi pendengarnya. Karena nasyid sendiri adalah bentuk seruan dakwah dalam bentuk lagu. Oleh karenanya, kekuatan nasyid terletak pada ruhiyah penasyidnya. Pelantun nasyid akan berhasil menyampaikan pesan nasyidnya pada pendengarnya jika sudah mengamalkan sesuai lagu nasyid yang dia sampaikan. Misalnya lagu nasyid tentang bakti pada orang tua, lagu nasyidnya akan “sampai” pada pendengarnya jika penasyidnya memang sudah sangat berbakti pada orangnya.

Dr. Kun Astusi Sedang Menyampaikan Materi dengan Mas Aga Sekamdo, MM

Dr. Kun Astusi Sedang Menyampaikan Materi dengan Mas Aga Sekamdo, MM

Di sesi siang hari, diisi oleh Diky Fatih dengan materi tentang “Pengenalan Industri Nasyid”. Diky yang berprofesi sebagai seorang musisi nasyid dan pemilik studio DFP Record tersebut banyak menyampaikan tentang siapa dan apa saja yang berperan dalam industri musik, tertutama nasyid. Karen jika grup nasyid ingin dikenal oleh masyarakat luas, maka mau tidak mau grup tersebut harus memiliki sebuah karya yang dituangkan dalam bentuk album. Dalam pembuatan album, grup tersebut harus mengenal siapa pihak labelnya, apa jenis labelnya, dan bagaimana album terssebut harus didistribusikan. Namun, sekarang untuk masuk ke industri musik tidak sesulit jaman dulu. Perkembangan teknologi sangat membantu seorang penyanyi dalam proses recording. Bahkan suara fals pun bisa dibuat tidak fals. Begitu juga dengan pemasaran lagu, sekarang banyak media sosial yang cukup ampuh membantu dalam mempromosikan lagu. Seperti Youtube, seorang penyanyi sekarang banyak bermunculan dari media gratis tersebut. Sehingga, batasan industri musik sekarang cukup lebar. Karena kita sangat mudah mengaksesnya.

Pada sore hari, para peserta dibuat pusing dan muntah oleh mas Era. Mas Era yang cukup lama di bidang pelatihan vocal tersebut, mengajak semua peserta untuk praktek dan latihan pernafasan dan vocalizing. Tak sedikit peserta yang merasa pusing dan ingin muntah saat harus melatih pernafasan diafragma sebagai cara terbaik untuk bernyanyi. Begitu juga melatih dan mengenalkan peserta untuk pernafasan supaya tidak ngos-ngosan saat bernyanyi. Mas Era menekankan bahwa untuk menjadi penyanyi hebat, latihan vocalizing itu wajib hukumnya. Karena supaya bisa terjaga kualitas suara dan pernafasan yang baik. Dan juga membantu kita untuk menjalani aktivitas harian kita lebih fresh. Kurang lebih 2 jam, peserta diajak untuk berlatih bersama dan walau mereka cukup berat, tapi para peserta terlihat ceria dan bersemangat untuk latihan.

Diky Fatih Menyampaikan Tentang Pengenalan Industri Musik

Diky Fatih Menyampaikan Tentang Pengenalan Industri Musik

Mas Era Sedang Melatih Peserta Vocalizing

Mas Era Sedang Melatih Peserta Vocalizing

Pada sesi malam hari, materi yang disampaikan oleh Kang Deni Aden cukup asyik dan berlangsung meriah. Materi tentang “Stage Act Performance” cukup menarik bagi peserta disampaikan oleh Kang Deni sebagai seorang penyanyi nasyid senior yang sering bolak-balik perform di Hongkong, Singapura, dll. Kang Deni memili jargon, “Pede YES dan Nervous NO” tersebut mengajak peserta untuk tidak grogi saat berada di panggung. Kang Deni banyak memberikan tips bagaimana menghilangkan rasa grogi saat di panggung, seperti dengan cara pernafasan, kemudian mengajak komunikasi dengan audience, dll. Peserta juga ditantang untuk maju ke panggung dan bersenandung, dengan ekspresi penghayatan yang dalam.

Kang Deni Sedang Melatih Peserta Bagaimana Perform di Atas Panggung

Kang Deni Sedang Melatih Peserta Bagaimana Perform di Atas Panggung

Di hari kedua, peserta diwajibkan untuk menampilkan nasyid sesuai dengan pembagian kelompok yang sudah ditentukan oleh panitia. Dipandu oleh Firas Bizy dan Akmal Jinan, acara konser pembuktian materi pada hari pertama berjalan dengan seru. Dengan komentator dan juri oleh Muchlis Fatih sebagai ketua ANN Jogja dan Teh Kendy Tiara, komentar-komentar dari penampilan peserta bersifat konstruktif untuk keberlanjutan grup maupun solois nasyid setelah acara JNC. Ketua panitia, Hamim, beserta teman-teman panitia dari UNASCO dan ANN Jogja telah berhasil menyelenggarakan pelatihan nasyid untuk pertama kalinya dengan format camp atau menginap.

So, kita tunggu acar pelatihan nasyid berikutnya. Yang pasti lebih seru, berbobot dan insyaAllah banyak memberi manfaat.

Salah Satu Penampilan dari Peserta Yang Menamakan Grup Nasyid Kamar Hudaya

Salah Satu Penampilan dari Peserta Yang Menamakan Grup Nasyid Kamar Hudaya

Redaksi : Admin

Bibliografi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Lir-ilir

http://id.wikipedia.org/wiki/Nasyid


0 Comments

Komentar Anda